Tampilkan postingan dengan label Game. Tampilkan semua postingan

[GAME] Game of Thrones – Politik Penuh Darah, Poligon Penuh Cacat


Game of Thrones merupakan sebuah seri TV fantasi yang diadaptasi dari seri novel berjudul A Song of Ice and Fire. Berbeda dengan seri fantasi pada umumnya yang biasa memiliki tema petualangan, seri Game of Thrones lebih berkonsentrasi pada urusan politik di dunia yang diisi dengan sihir, makhluk mitos, serta kejadian-kejadian mistis lainnya. Sayangnya, meskipun sukses sebagai sebuah novel dan juga serial TV, sejauh ini masih belum ada adaptasi video game yang benar-benar bagus dari Game of Thrones.

Begitu mendengar isu bahwa Telltale Games akan mengerjakan Game of Thrones, saya jelas sangat kegirangan, karena akhirnya Game of Thrones yang memiliki dunia fiksi fantastis ini akan digarap oleh salah satu developer favorit saya. Setelah menunggu satu tahun semenjak dikonfirmasi, baru minggu inilah saya berkesempatan untuk menjajal langsung Game of Thrones  buatan Telltale. Lalu, apakah Telltale berhasil mewujudkan sebuah game dari Game of Thrones yang memenuhi potensi yang dimiliki seri ini? Cek jawabannya di bawah, kamu akan terkejut.

Episode 1: Iron From Ice


Pengalaman awal saya begitu melihat tampilan dari Game of Thrones di episode pertama ini bisa dibilang cukup mengecewakan. Sebelum dirilis, perwakilan Telltale telah mengatakan bahwa game ini akan memiliki grafis layaknya lukisan cat air. Kalau kamu lihat dari background saja, memang game ini nampak seperti lukisan cat air, tapi jika kamu melihat karakter-karakternya, kamu akan disajikan dengan model karakter yang amat sangat mirip dengan The Walking Dead dan Back to the Future, tapi dengan efek goresan-goresan kuas yang sering kali membuat karakter nampak aneh.

Jika karakter nampak aneh, maka animasi game ini bukan sekedar aneh lagi, tapi benar-benar buruk. Berbagai adegan action nampak begitu canggung dan terkesan sangat tidak masuk akal. Perlu diingat saya pribadi bukanlah seorang yang gila akan grafis memukau dengan frame rate tinggi, tapi apa yang disajikan Telltale di Game of Thrones ini bisa dibilang kelewatan mengesalkan. Semua ini semakin diperparah dengan kontrol yang sangat buruk dan game yang mengalami hang saat saya tengah memainkannya.

Sampai di titik tersebut, saya sudah sangat kecewa dan sudah berpikir akan memberikan game ini skor yang amat sangat rendah. Tapi kemudian saya ingat, gameplay keren dan grafis memukau memang bukan nilai jual utama Telltale (kecuali di The Wolf Among Us, itu game keren sekali). Apa yang selalu menjadi nilai jual Telltale adalah kualitas penulisan dan penyampaian cerita yang mereka karang. Untuk urusan itu, saya akui Game of Thrones patut diacungi jempol.

Berbeda dengan game dari Telltale sebelumnya, di sini kamu akan mengendalikan lima karakter, walaupun untuk episode pertama baru tiga karakter yang akan kamu kendalikan. Hal ini sejalan dengan novel dan serial TV Game of Thrones di mana setiap bagian cerita disampaikan dari sudut pandang karakter yang berbeda-beda. Di sini pilihan yang kamu ambil menggunakan satu karakter, bisa jadi akan mempengaruhi dialog yang ada di bagian karakter lain. Sayangnya kamu tidak akan bisa melihat perubahan besar dalam cerita karakter lain tersebut selain perbedaan  dialog yang minor, walaupun memilih pilihan yang berbeda-beda untuk melihat berbagai dialog yang berkualitas jelas tetap berharga. Tidak hanya itu saja, meskipun adegan pertarungan fisik disajikan dengan sangat buruk, Telltale tetap bisa menyajikan adegan pertarungan kata-kata dengan sangat menarik dan cerdas, lagi-lagi sesuai dengan ciri khas Game of Thrones.

Kesimpulan 


Secara keseluruhan, Game of Thrones dari Telltale betul-betul memberikan konflik batin yang besar bagi saya. Game ini bermula dengan kesan yang sangat buruk, tapi diakhiri dengan perasaan shock dan kagum seperti yang biasa saya temukan ketika membaca atau menonton Game of Thrones, sebuah perasaan yang jarang sekali saya temukan di kisah fiksi lainnya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memberikan skor grafis dan gameplay yang buruk untuk game ini, namun skor akhir yang tinggi dinilai dari perasaan yang saya rasakan ketika selesai memainkannya.

Dari segi cerita, saya jelas tidak akan khawatir Game of Thrones menemukan masalah untuk lima episode ke depan, tapi saya jelas berharap Telltale dapat memperbaiki berbagai isu teknikal yang ada di game ini di episode-episode mendatang. Mungkin saja ini waktunya mereka untuk mulai mengganti engine game internal mereka dengan teknologi yang lebih maju.

Episode 2 sampai 6 masih belum memiliki tanggal rilis dan akan segera kami tambahkan ulasannya begitu rilis di sini.


Source: id.gamesinasia.com


[GAME] Call of Duty: Advanced Warfare – Kembalinya Sang Raja FPS


Sampai titik ini rasanya semua orang sudah tahu mengenai Call of Duty. Ini adalah seri game first-person shooter yang paling terkenal dan juga menguntungkan yang pernah ada dalam sejarah dunia gaming. Tapi konsensus umum yang mulai terbentuk adalah seri Call of Duty sudah mulai membosankan. Ini diperkuat dengan seri terakhir yang mendapat respon yang kurang baik walaupun dari segi penjualan Call of Duty: Ghost adalah salah satu game dengan penjualan tertinggi sepanjang tahun 2013.

Pemain sudah bosan dengan formula yang sama dan jika sang developer tidak melakukan hal yang baru maka kita mungkin akan segera melihat matinya franchise Call of Duty. Tapi nampaknya itu tidak akan terjadi, setidaknya dalam waktu dekat. Ini karena Call of Duty: Advanced Warfare berhasil menghembuskan nyawa baru ke dalam seri ini. Setidaknya membawa beberapa persepsi dan rasa baru ke dalam game yang sudah terkenal dengan aksi luar biasa khas Hollywood ini.

Sebelum saya memulai ulasan kali ini saya harus katakan bahwa saya hanya pernah memainkan Call of Duty, Call of Duty 2, Call of Duty 4: Modern Warfare, Call of Duty 4: Modern Warfare 2, dan Call of Duty: Ghosts. Jadi jelas saya melewatkan beberapa seri terbaru mereka (tepatnya 5) dan ini membuat saya tidak memiliki kelelahan yang sama dengan pemain yang memainkan seri Call of Duty setiap tahunnya.

Sebuah Masa Yang Tidak Terlalu Jauh

Call of Duty: Advanced Warfare mengambil latar belakang cerita di tahun 2054, jadi kita akan melihat berbagai senjata dan perlengkapan yang futuristis. Tapi karena tahun 2054 hanya kurang 40 tahun lagi, sang developer tidak terlalu memaksa untuk menghadirkan senjata dengan terlalu futuristis. Senjata serta perlengkapan yang ada masih dalam batas wajar, masuk akal pada masanya, dan juga pintar. Kalau kamu juga mengikut perkembangan senjata sekarang maka kamu akan tahu bahwa teknologi yang digunakan di Advanced Warfare tidaklah terlalu jauh.

Berbicara mengenai cerita, Call of Duty: Advanced Warfare tetap menggunakan plot yang terbilang cheesy layaknya sebuah film Hollywood. Tapi kali ini sang developer membuatnya lebih mudah dicerna. Ini karena mereka tidak terlalu terburu-buru menjelaskan latar belakang dari ceritanya. Beberapa seri Call of Duty terakhir yang saya mainkan selalu mempunyai pola di mana kita langsung terjun ke dalam sebuah aksi berbahaya dengan briefing yang sangat singkat. Bahkan di Call of Duty: Ghost, briefing ini menggunakan animasi yang sederhana. Di Call of Duty: Advanced Warfare saya merasa karakter yang saya mainkan lebih di anggap penting sehingga karakter lain mau menjelaskan latar belakang dengan lebih detail. Bukan seperti pesuruh dengan perintah pergi ke sana, bunuh seseorang, dan jangan banyak tanya.



Secara intensitas Call of Duty: Advanced Warfare juga mempunyai pola yang sedikit berbeda. Sebelumnya kamu akan secara konstan menjalani misi yang semakin lama semakin penting dan menegangkan. Di sini kamu akan melalui berbagai plot yang turun naik bahkan sampai ke bagian paling akhir dari cerita. Bagi saya ini adalah cara yang tepat untuk menikmati sebuah game FPS yang cukup panjang. Jika kamu memutuskan untuk mencari semua intel yang dapat kamu kumpulkan maka Call of Duty: Advanced Warfare akan membutuhkan waktu sampai 9 jam.

Variasi misi yang menjadi ciri khas Call of Duty juga tetap ada. Saya bisa bilang saya menyukai berbagai variasi misi yang ada di Call of Duty: Advanced Warfare karena memang misinya cukup bervariasi. Bukan hanya karena kamu diizinkan menggunakan berbagai kendaraan (yang mana juga masih ada di sini). Kamu tidak selalu menjadi jagoan utama, ada saatnya kamu menjadi support untuk tim yang sedang menyerbu sebuah bangunan, atau bahkan lari melewati berbagai rumah untuk menghindari serangan penembak jitu. Di sini kamu bagian dari sebuah tim dan itu berarti kamu harus melakukan beberapa peran lainnya. Kesan Rambo sudah cukup berkurang dan ini adalah sebuah variasi yang menyenangkan.

Exosuit – Mainan Canggih Para Tentara

Ada banyak (mungkin terlalu banyak) gadget canggih yang diperkenalkan, namun tentu yang paling terkenal adalah Exosuit. Pada dasarnya Exosuit akan membuat kamu menjadi Iron Man. Kamu bisa melompat tinggi, terbang, sampai dengan menghilang. Terdengar keren dan memang keren, namun di single player peran dari Exosuit ini tidak terlalu besar selain menjadi pelengkap cerita. Contohnya Boost Jump, dengan kemampuan ini kamu bisa melompat tinggi, cocok untuk melompati sebuah mobil yang sedang terbakar atau mencapai lantai 2 dengan cepat. Tapi ketika kamu sedang berhadapan dengan 10 sampai 15 musuh maka melompat tinggi hanya akan membuat kamu menjadi sasaran empuk.

Bagian yang menurut saya lebih bagus dari pada Exosuit itu sendiri adalah peningkatan terhadap beberapa senjata dasar. Dua senjata baru favorit saya adalah bom pintar yang dapat mencari sendiri musuh dan juga threat grenade yang begitu diledakkan akan memberitahu posisi musuh yang sedang bersembunyi. Evolusi dari berbagai granat yang ada di sini terbilang cukup bagus dan bukan sekedar upgrade lebih besar ledakan atau lebih kuat, tapi memiliki fungsi yang baru.

Grafis Luar Biasa Yang Akan Memberikan Alasan Untuk Upgrade Graphic Card

Kualitas grafis dari Call of Duty: Advanced Warfare terlihat sangat baik sekali. Karakter Irons (Kevin Spacey) terlihat sangat mirip dengan wajah aslinya dan di beberapa adegan saya bahkan sudah tidak bisa membedakan apakah ini diambil secara langsung atau merupakan CGI. Walaupun memang ada beberapa momen di mana artikulasi mulut terutama mata tidak terasa hidup. Jadi terkadang seorang karakter akan terlihat sangat hidup dari kaki sampai kepala, tapi dia tidak seperti sedang melihat ke arah yang benar.

 
Satu hal terakhir yang sangat membantu codaw secara visual adalah penggunaan lingkungan yang sebagian besar terjadi di sebuah kota yang hidup. Di sebuah misi kita hanya perlu membuntuti dan merekam pembicaraan seseorang di tengah hiruk-pikuk perkotaan dan itu membuat saya bertanya apakah ini Call of Duty: Advanced Warfare yang saya sedang mainkan? Setelah sebelumnya selalu melihat hutan, kota mati, serta markas militer terpencil dari seri-seri sebelumnya, penggunaan kota sebagai tema lingkungan utama benar-benar membawa penyegaran.

Kesimpulan



Jadi apakah Call of Duty: Advanced Warfare layak untuk dibeli? Bahkan untuk single player saja, saya rasa Call of Duty: Advanced Warfare sudah layak untuk dibeli. Jika kita bandingkan dengan Crysis 3, keduanya memiliki jumlah jam bermain yang relatif sama dan pengalaman bermain yang sama serunya. Tapi Call of Duty: Advanced Warfare masih memiliki keunggulan dari segi multiplayer yang sebenarnya merupakan bagian yang lebih penting daripada single player.

Tapi jika kamu tanya apakah sebaiknya dibeli sekarang maka saya pribadi akan menyarankan nanti ketika ada diskon. Walaupun single player Call of Duty: Advanced Warfare adalah salah satu yang paling bagus, namun mode multiplayer masih mengalami kendala ping yang rendah. Activision sudah mengeluarkan patch yang sedikit meningkatkan performanya namun belum sampai ke tahap benar-benar tanpa masalah. Kamu bisa membeli Call of Duty: Advanced Warfare sekarang dan bermain multiplayer dengan cukup lancar, namun terkadang akan ada saatnya di mana game menjadi sedikit laggy sementara. Jika kamu bisa hidup dengan itu dan sudah tidak tahan, maka ya kamu mendapat restu dari saya untuk membelinya.

Source: id.gamesinasia.com

[GAME] Far Cry 4 - Selamat Datang Di Kyrat, Sampai Jumpa Produktivitas


Bagi sebagian orang, FPS merupakan sebuah genre video game yang sudah cukup menjenuhkan. Pemandangan yang kamu lihat dalam game bergenre tersebut biasanya tidak lebih dari kamu yang membunuh semua musuh yang terlihat di layar kaca. Seri terbaru dari Far Cry yaitu Far Cry 4 juga sebenarnya menganut genre yang sama, namun satu hal yang harus diperhatikan: ini adalah Far Cry, bukan sembarangan FPS.

Namaste

Seri Far Cry telah terkenal dengan konsepnya yang memadukan aksi tembak-menembak dengan keganasan alam liar. Dua hal yang memiliki sifat yang kurang lebih sama ini terasa cukup menarik bila dipadukan dengan cara yang tepat. Entah mengapa keganasan dan keindahan alam terasa sangat harmonis jika digabungkan dengan suara muntahan peluru dan karakter manusia yang setengah gila. Far Cry 4 masih membawa konsep yang sama mulai dari alam liar dan persenjataan, namun kali ini dengan perbedaan lokasi serta penambahan di sana-sini.

Berperan sebagai Ajay Ghale, kamu akan melakukan sebuah misi pribadi yaitu meletakkan abu mendiang ibumu di tempat kelahirannya yaitu Kyrat. Sayangnya, misi sederhana itu berubah menjadi bencana setelah dirimu terlibat dalam pertikaian antara Golden Path, pejuang dari tanah Kyrat dengan Pagan Min, seorang tiran yang menguasai Kyrat.

Secara keseluruhan, sebenarnya Far Cry 4 menawarkan cerita yang cukup sederhana dan seharusnya mudah dimengerti. Sayangnya, banyaknya side quest yang mengalihkan perhatian serta plot utama yang diceritakan dengan cara yang kurang jelas membuat cerita dalam game ini malah kadang terasa membingungkan. Tetapi, layaknya seri Far Cry sejak dulu, saya rasa cerita bukanlah hal yang dipentingkan untuk game buatan Ubisoft ini.

Far Cry 3,5

Far Cry 4 bisa saya bilang sebagai Far Cry 3,5. Meskipun ada embel-embel angka empat dalam judul game ini, saya masih tetap bisa merasakan bahwa game ini tidak lebih dari versi upgrade dari bagian visual dan beberapa mekanisme gameplay. Selain dari semua itu, tidak ada yang benar-benar berbeda antara Far Cry 3 dengan Far Cry 4.

Kamu masih mendapatkan sebuah pengalaman FPS yang sangat solid dilengkapi dengan elemen sandbox yang sangat luas dan diimplementasikan dengan baik. Karakteristik setiap senjata terasa berbeda dan persenjataan yang cukup beragam membuat tembak-menembak tidak begitu membosankan. Dinamisnya medan yang ada dalam game ini membuat tembak-menembak tidak terasa linear dan saya rasa itu adalah hal yang menjadi standar game shooter masa kini. Mungkin kedua hal tadi tedengar baik, tetapi sekali lagi saya tidak menemukan inovasi yang berbeda dari Far Cry 3.

Kamu juga bisa menggunakan pendekatan secara stealth ketimbang maju menjadi jagoan tahan peluru. Secara tidak mengejutkan, pengalaman stealth di Far Cry 4 terasa sangat menyenangkan. Rasanya memuaskan sekali untuk bisa membebaskan sebuah markas dari genggaman musuh dengan cara menyusup seperti hantu dan menghabisi seluruh penjaga satu per satu. Tentunya melakukan stealth bukan tanpa imbalan. Kamu akan mendapatkan XP yang jauh lebih besar dibanding kamu membabi buta di sarang musuh.

Oh iya, menambahkan soal pembebasan markas, fitur untuk mengulang kegiatan pembebasan markas tersebut kini dihadirkan dalam Far Cry 4 dan dilengkapi dengan leaderboard. Dengan demikian kamu tidak akan merasa cepat bosan karena kamu bisa mengulangi pembebasan markas sambil beradu waktu dengan pemain di seluruh dunia.
XP di sini berguna untuk membeli berbagai macam kemampuan. Banyak kemampuan yang pernah kamu lihat dalam Far Cry 3 juga masih bisa kamu temui dalam Far Cry 4. Sedikit mengecewakan, namun setidaknya kita bisa naik gajah. Ya! Naik gajah sambil menembaki dan menginjak-injak musuh yang menghadang mungkin sebuah hiburan jenis baru yang belum pernah ditemukan manusia sebelumnya.

Persenjataan juga masih bisa kamu atur bagian-bagian serta aksesorisnya demi memperkuat senjata yang kamu punya. Memang, pengaturan yang disediakan tidaklah terlalu mendalam, namun melihat senjata yang ada dalam game ini dipasangi berbagai aksesoris tertentu rasanya sangat menyenangkan.

Side Quest, Di Mana-Mana Side Quest

Petualangan kamu di pegunungan Kyrat juga masih dipenuhi dengan side quest yang akan sangat menyita waktu permainanmu. Permainan yang seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu sekitar 15 jam (atau 15 menit ;) ) kini membengkak hingga 40 jam. Tapi itu bukanlah hal yang buruk karena side quest dalam Far Cry 4 cukup menghibur dan memberikan imbalan yang berguna demi kelangsungan permainan. Sisi buruknya, mungkin waktu kamu untuk bekerja atau belajar akan berkurang drastis begitu menyentuh FPS buatan Ubisoft ini.

Kamu bisa menerima side quest seperti memburu hewan, membunuh target tertentu, ikut dalam tantangan balapan, dan lain sebagainya. Side quest di sini selalu memberikan imbalan yang sangat menyenangkan seperti uang yang bisa digunakan untuk membeli senjata dan perlengkapan. Selain itu, menara yang biasa ada dalam Far Cry 3, kembali hadir sebagai mini-puzzle untuk menyingkap kabut di peta layaknya proses synchronization dalam Assassin’s Creed dan sekaligus memberikan kamu akses untuk memperoleh senjata secara gratis.

Kesimpulan

Far Cry 4 merupakan sebuah pengembangan dari Far Cry 3 yang bisa dibilang cukup positif. Dengan gameplay yang baik serta side quest bermakna yang tetap seru untuk dilakukan, saya rasa Far Cry 4 merupakan salah satu iterasi terbaik dari seri Far Cry. Hanya saja, Far Cry 4 lebih terasa sebagai expansion pack besar dari Far Cry 3 ketimbang sebuah game baru. Kurangnya inovasi mungkin akan membuat pemain seri Far Cry agak kecewa, namun bagi pemain pertama seri Far Cry, Far Cry 4 adalah pilihan seri Far Cry yang sangat tepat untuk dimainkan (jika kamu sedang benar-benar senggang).

 Source: id.gamesinasia.com

[GAME] Nostalgia The Sims - Karena Hidup Di Dunia Nyata Tidaklah Cukup


Apakah kamu pernah berharap kamu bisa lahir kembali tapi tidak sebagai orang Indonesia dan malah menjadi orang Amerika? Atau kamu berharap bisa lahir dengan wajah lebih tampan dan tubuh lebih atletis serta memiliki pacar seperti Scarlett Johansson? Sayangnya untuk bisa mewujudkan hal-hal tersebut sangatlah sulit, tapi mungkin kamu bisa mewujudkan setengahnya secara pas-pasan melalui salah satu game paling melegenda di dunia, The Sims.

The Sims merupakan buah pikiran dari Will Wright, legenda industri video game yang juga menghasilkan berbagai game seperti SimCity dan beberapa game dengan embel-embel Sim, serta game tentang evolusi berjudul Spore. Game garapan Wright dengan timnya di Maxis ini sekarang telah berkembang begitu pesat dengan berbagai fitur yang semakin lama semakin mendekatkan The Sims dengan kehidupan nyata. Meskipun begitu, sifat simpel yang dimiliki oleh The Sims yang pertama kali dirilis masih bisa sukses memberikan pesona tersendiri. Kira-kira apa saja yang membuat The Sims begitu spesial? Cek ulasan lengkapnya di bawah.

Kehidupan Kedua … Kurang Lebih Begitu


Premis dari game The Sims sangatlah simpel, kamu akan menjalani kehidupan sebagai manusia. Terdengar membosankan bukan? Ya kurang lebih memang hampir semua game simulasi kehidupan memiliki kesan seperti itu. Sama juga seperti Harvest Moon yang menempatkanmu pada kehidupan seorang petani kapitalis.

Meskipun begitu, menjalani kehidupan di The Sims adalah suatu pengalaman yang sangat menyenangkan dan penuh kenangan. Saya masih cukup ingat ketika saya mulai menentukan penampilan dari karakter The Sims pertama saya, memilih profesi yang salah hanya karena melihat gaji besar di strata awal karir, hingga mencoba membangun sebuah keluarga dengan sepasang suami dan istri serta dua anak dari awal yang ternyata dibaca oleh game sebagai saudara kandung yang berakhir dengan hubungan setengah inses canggung yang untungnya dibatasi oleh logika dalam game.

Bagi saya pribadi, kegiatan paling menyenangkan di game ini bukanlah ketika kita memerintahkan karakter kita untuk melakukan aktivitas-aktivitas demi memenuhi kebutuhan duniawi mereka yang tidak ada habisnya. Bagian paling menarik justru ketika saya berusaha untuk membangun tempat tinggal dengan dana pas-pasan, membuatnya nyaman ditinggali meskipun bisa mengakibatkan tetangga yang berkunjung tidak bisa keluar rumah (“sumpah deh kenapa sih mereka ga mau keluar dari pintu masuk!”). Sebagai seorang anak SD, berkreasi dengan tempat tinggal seperti itu jelas merupakan pengalaman yang hanya bisa saya lakukan di dalam game saja, walaupun ternyata setelah saya bekerja pun berkreasi dengan tempat tinggal di dunia nyata tidaklah semenyenangkan di The Sims.

Ekspansi Besar-Besaran


Kalau mengingat The Sims yang pertama, saya langsung teringat masa-masa ketika sebuah game tidak memiliki DLC yang tersedia saat game baru dirilis. Saya mengingat masa-masa ketika para gamer PC mengenal istilah Expansion Pack di mana konten bonus yang bisa didapatkan sangatlah besar dan menambah pengalaman baru. Bandingkan saja ekspansi The Sims Hot Date yang mengizinkan kamu untuk berkunjung ke mal atau piknik di taman dengan DLC yang harus kamu beli untuk mendapatkan karakter yang harusnya tersedia dari awal.

Sebagai sebuah game, The Sims memiliki banyak sekali Expansion Pack yang tidak hanya menambahkan konten-konten simpel saja. Berbagai fitur baru muncul dari berbagai ekspansi ini membuat usia bermain The Sims menjadi sangat panjang. Setiap kamu mencapai poin di mana kamu sudah tidak berminat lagi dengan game ini, tiba-tiba saja muncul ekspansi yang menambahkan pengalaman bermain dengan sangat signifikan.

Presentasi Abadi

Secara visual, The Sims merupakan sebuah kesempurnaan. Sampai saat ini saya masih menganggap game ini sebagai salah satu game dengan interface terbaik. Mulai dari pemilihan warna, bentuk-bentuk ikon, kemudahan menggunakan dan mempelajari, pokoknya segala hal mengenai interface The Sims pertama sangatlah luar biasa. Semua informasi yang dibutuhkan saat kamu bermain ditampilkan dengan cantik dan menarik, membuat banyaknya informasi yang perlu dicerna tetap mudah dipahami ketika kita bermain.

Dari segi estetika visual, game ini juga menyajikan pemandangan yang sangat enak dilihat mata. Dengan menggunakan sudut pandang kamera isometris yang sepertinya memang sangat sempurna untuk simulasi atau strategi, The Sims menjadi sebuah game yang tetap terlihat bagus bahkan 15 tahun setelah perilisannya.

Presentasi yang baik juga diwujudkan ketika karakter Sim kamu hendak berekspresi atau berkomunikasi dengan sesama Sim. Dengan diiringi balon-balon kata yang berisi simbol-simbol tertentu, kamu bisa cukup memahami apakah mereka tengah membicarakan tentang ekonomi, olahraga, atau hal-hal tidak jelas lainnya. Hal ini diiringi juga dengan dialog-dialog berbahasa Simlish yang sangat tidak jelas tapi cukup lucu didengar. Kombinasi presentasi audio dan visual game ini betul-betul memberikan pengalaman bermain yang seru serta penuh dengan nuansa nostalgia.

Kesimpulan: Harva sol labaga along with hava so lawnumg


Hah? Apa pula maksud kalimat di atas? Kalau itu jadi pertanyaan kamu, maka kamu perlu bantuan kamus Simlish ini. Kalimat di atas memiliki arti “hei, mari pesta di rumahku!“. Tentu saja saya tidak mengajak kamu semua pesta di rumah saya, tapi akhir minggu ini jelas merupakan waktu yang tepat untuk kamu berpesta bersama dengan karakter Sim kamu.

Meskipun berisi kegiatan-kegiatan repetitif yang membosankan, tidak bisa dipungkiri bahwa The Sims adalah sebuah game yang didesain dengan sangat baik. Mulai dari desain mekanisme permainan, hingga ke desain visual, semuanya betul-betul dibuat untuk memuaskan dirimu. Meskipun The Sims 4 sudah tersedia di pasaran sekarang, sempatkanlah diri kamu untuk memainkan salah satu legenda video game ini.

Sayangnya saat ini bahkan situs seperti Origin atau GOG.com pun tidak menjual kompilasi The Sims pertama. Kalau kamu memang berminat untuk memainkan game ini, silakan usahakan sendiri ya. Sambil jangan lupa berharap supaya EA cukup cerdas untuk menjual game ini di Origin.


Source: id.gamesinasia.com